Sampang, 7 Agustus 2026 — Ada suasana yang berbeda di halaman SMKN 1 Sampang pada Jumat pagi itu. Lapangan yang biasanya dipenuhi suara langkah siswa, aktivitas pembelajaran, dan canda tawa, pagi itu berubah menjadi ruang penuh keheningan.
Ribuan siswa dan guru berkumpul. Bukan untuk sebuah upacara, bukan pula untuk kegiatan sekolah seperti biasanya. Mereka datang untuk satu tujuan: mendoakan seorang guru yang baru saja pergi untuk selamanya, Bapak Taufik Kurahman.
Tujuh hari telah berlalu sejak kepergian guru olahraga senior yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari keluarga besar SMKN 1 Sampang itu. Tahlil tujuh hari telah dilaksanakan. Namun rupanya, kehilangan itu belum juga terasa nyata.
Nama Taufik Kurahman masih begitu dekat dalam ingatan.
Masih terbayang sosoknya berjalan di lingkungan sekolah. Masih terdengar seolah suaranya memanggil siswa. Masih teringat bagaimana beliau berada di lapangan, mendampingi anak-anak dalam kegiatan olahraga, memberikan arahan, bercanda, dan menjalankan tugasnya sebagai seorang guru.
Tetapi pagi itu, lapangan sekolah justru dipenuhi doa untuknya.
Ribuan siswa berdiri dan duduk dalam suasana khidmat. Para guru yang selama ini menjadi rekan kerja beliau juga larut dalam kesedihan. Bacaan tahlil, doa, dan lantunan ayat-ayat suci mengalun bersama, menjadi bentuk penghormatan terakhir dari keluarga besar sekolah kepada sosok yang telah mengabdikan sebagian hidupnya untuk pendidikan.
Seolah-olah semua masih belum percaya bahwa Bapak Taufik benar-benar telah tiada.
Kepergian seseorang yang setiap hari hadir di tengah-tengah kita memang tidak mudah diterima. Ketika seseorang terbiasa melihat wajah yang sama, mendengar suara yang sama, dan berbagi cerita dalam rutinitas yang sama, tiba-tiba semuanya berhenti dalam satu kabar duka.
Begitulah yang dirasakan keluarga besar SMKN 1 Sampang.
Kemarin beliau masih ada.
Kemarin masih bisa disapa.
Kemarin masih bisa diajak berbicara.
Kemarin masih bisa bercanda bersama rekan-rekan guru.
Kemarin masih bisa melihat siswa-siswanya beraktivitas.
Namun hari ini, semua itu hanya tinggal kenangan.
Lapangan sekolah yang dahulu menjadi tempat beliau mendampingi siswa berolahraga, pagi itu justru menjadi tempat ribuan anak didiknya mengirimkan doa.
Sungguh sebuah lingkaran kehidupan yang begitu mengharukan.
Seorang guru menghabiskan hidupnya untuk mendidik anak-anak, kemudian ketika ia pergi, anak-anak didiknya berkumpul untuk mengantarkan doa terbaik bagi gurunya.
Bapak Taufik mungkin telah meninggalkan lapangan itu.
Namun jejak langkahnya tidak akan pernah benar-benar hilang.
Ada siswa yang pernah ditegur karena tidak disiplin. Ada yang pernah dimotivasi ketika kehilangan semangat. Ada yang pernah diajari tentang sportivitas. Ada yang pernah tertawa bersama beliau. Ada pula yang mungkin baru menyadari betapa berharganya kehadiran seorang guru setelah beliau tidak lagi berada di sekolah.
Karena terkadang, kita baru memahami arti seseorang ketika kursinya kosong dan sosoknya tidak lagi bisa kita temui.
Pagi itu, ribuan doa menjadi bukti bahwa Bapak Taufik bukan sekadar seorang guru. Beliau adalah bagian dari perjalanan keluarga besar SMKN 1 Sampang.
Seorang pendidik yang telah memberikan waktu, tenaga, perhatian, dan pengabdiannya kepada generasi muda.
Dan kini, tugas kita bukan lagi memanggil namanya di lapangan.
Tugas kita adalah mengabadikan kebaikannya dalam ingatan dan mendoakannya dalam setiap kesempatan.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum Bapak Taufik Kurahman, mengampuni segala dosa dan kekhilafannya, melapangkan kuburnya, menerangi alam barzakhnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah memberikan kesabaran dan ketabahan. Terutama bagi empat buah hati yang kini harus menjalani hari-hari tanpa kehadiran seorang ayah.
Dan untuk keluarga besar SMKN 1 Sampang—
jangan pernah merasa bahwa doa kita sia-sia.
Karena mungkin suatu hari nanti, ketika nama Bapak Taufik disebut, kita tidak lagi hanya mengingat kesedihan karena kepergiannya.
Kita akan tersenyum, mengenang kebaikannya.
Mengenang candanya.
Mengenang pengabdiannya.
Mengenang langkahnya di lapangan sekolah.
Dan berkata dalam hati:
"Beliau pernah menjadi bagian dari keluarga kami. Dan kami tidak akan pernah melupakannya."
Selamat jalan, Bapak Taufik Kurahman.
Hari ini kami kehilangan seorang guru.
Tetapi kami tahu, guru sejati tidak pernah benar-benar pergi.
Ilmunya tinggal.
Nasihatnya tinggal.
Kebaikannya tinggal.
Dan kenangan tentangnya akan terus hidup di hati ribuan siswa dan guru yang pernah mengenalnya.
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Semoga Allah memberikan husnul khatimah dan menempatkan Bapak Taufik Kurahman di tempat terbaik di sisi-Nya.
Selamat jalan, Pak Taufik.
Lapangan ini akan tetap ada, sekolah ini akan tetap berjalan, tetapi rasanya tidak akan pernah benar-benar sama tanpa kehadiran Bapak.
